Minggu, 12 Juli 2009

Chapter Nine


Chapter 9

Adi melalui kelas 1 Sekolah Menengah Pertama dengan baik. Meskipun memiliki masalah dengan absensi di sekolah, nilai-nilainya mampu menolong dia untuk tidak tinggal kelas. Sekarang Adi duduk di kelas 2. Gedung sekolah yang lama juga sudah selesai direnovasi, dan mereka semua sudah menempati sekolah lama kembali. Adi tidak perlu lagi khawatir tentang naik angkutan umum.

Saat liburan sekolah yang lalu, Adi menginap di rumah Tian, kakak sepupunya, selama dua minggu. Tian yang sudah kuliah seringkali bepergian hingga lewat tengah malam, berkumpul dengan teman-temannya, mengelilingi Jakarta dengan tujuan yang tidak jelas. Adi yang memang merasa dekat sekali dengan Tian, hampir setiap hari ikut dengan Tian, pergi keluar rumah di malam hari dan pulang menjelang matahari terbit. Lama-kelamaan, efek dari kegiatan mereka baru terlihat saat Adi mulai masuk sekolah kembali. Adi yang biasanya tidak terjaga hingga lewat tengah malam, dan tidak terbiasa juga terkena angin malam, terkena penyakit asma di bulan pertama Adi kembali sekolah. Papanya Adi marah besar saat mengetahui apa yang Adi lakukan saat menginap di rumah Tian, tapi papanya Adi tidak menunjukkan amarahnya pada siapapun, dia tetap dengan penuh kasih sayang merawat Adi hingga Adi merasa lebih baik.

Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, dan beberapa hari beristirahat di rumah, Adi kembali masuk ke sekolah. Teman-temannya menanyakan keadaannya saat Adi duduk di kursinya, disebelah temannya Adri. Diantara temannya yang menanyakan keadaannya, hanya Astri yang terus-menerus ingin mendengar cerita Adi tentang liburannya di rumah Tian yang menyebabkan Adi sakit. Astri adalah anak perempuan yang disukai oleh Adi sejak kelas 1, anak perempuan kelas sebelah saat di kelas 1, yang kini duduk didepan Adi di kelas 2 ini. Sepanjang hari saat tidak ada guru, Adi dengan penuh semangat menceritakan pengalamannya melihat-lihat Jakarta saat lewat tengah malam, dan Astri dengan penuh perhatian mendengarkan setiap cerita Adi.

---- 0 ----

Adi mengenal beberapa guru baru di kelas 2 ini. Guru yang mengajarkan biologi, guru sejarah, guru fisika dan guru bahasa Inggris adalah guru-guru baru bagi Adi di kelas 2 ini. Jika selama ini Adi sangat menyukai pelajaran bahasa Inggris dan matematika, maka di kelas 2 ini Adi menemukan mata pelajaran baru yang disukainya, yaitu fisika. Pelajaran yang berhubungan dengan rumus-rumus dan menghitung, membuat Adi sangat tertarik mengikutinya.

Guru fisikanya berasal dari Sumatra Utara, bertubuh kurus, berambut tipis dan terkenal galak. Banyak kakak kelas Adi mengatakan bahwa Pak Sofyan, guru fisika, sering memarahi murid-muridnya. Adi mendapati bahwa Pak Sofyan memang sering memarahi murid-muridnya, karena murid-muridnya yang susah mengerti walau sudah dijelaskan berulang kali. Bahkan ada yang dilarang mengikuti pelajaran Pak Sofyan selama satu semester. Adi sendiri tidak termasuk anak yang mengalami kesulitan mengerti pelajaran yang diberikan Pak Sofyan, dia dan Astri adalah anak yang bisa mengerti hanya dengan satu kali penjelasan dari Pak Sofyan. Karena itu, Adi dan Astri tidak pernah dimarahi olah Pak Sofyan. Bahkan nada berbicara Pak Sofyan pada Adi dan Astri berbeda dengan nada bicara Pak Sofyan pada yang lainnya. Adi sangat menyukai Pak Sofyan. Meskipun Adi pernah terkena hukuman bersama teman-teman sekelas, dijemur di tengah lapangan sekolah, layaknya pakaian yang baru selesai dicuci, Adi tetap menyukai Pak Sofyan.

---- 0 ----

Rahman, sahabat Adi dari Sekolah Dasar, juga bersekolah di Sekolah Menengah Pertama yang sama dengan Adi. Namun karena tidak sekelas, mereka sudah jarang bermain bersama. Dulu sewaktu Sekolah Dasar, Adi sering sekali bermain di rumah Rahman. Koleksi mainan Rahman sangat banyak. Adi sangat senang bermain perang-perangan menggunakan koleksi mainan Rahman. Miniatur tentara lengkap dengan segala pose dan senjata, miniatur karakter komik Donal Bebek seperti Donal, Mickey, miniatur suku Indian, Miniatur Tyrannosaurus Rex, Robot-robotan, lengkap sekali koleksi mainannya.

Kalau tidak bermain mainannya Rahman, mereka biasanya bermain Nintendo Adi yang Adi bawa dari rumahnya. Di kelas 6, Adi tidak perlu membawa Nintendo-nya ke rumah Rahman, karena Rahman sudah punya Nintendo sendiri. Jika tidak melakukan itu juga, biasanya Adi dan Rahman sibuk membaca koleksi majalah dan komik mereka. Mereka sengaja tidak membeli komik dan majalah yang sama, agar bisa saling pinjam-meminjam. Tidak jarang pula Rahman bermain ke rumah Adi, pergi bersama Adi bermain ke rumah Fandi untuk menonton koleksi video Fandi, berjalan kaki sejauh 2 Km ke tempat penyewaan video hanya untuk menyewa film Lion Maru, Megaloman, Zabogar, Goggle V dan Voltus. Banyak sekali hal yang dilakukan Adi dan Rahman bersama-sama saat kecil.

Di Sekolah Menengah Pertama ini, Adi dan Rahman sudah sangat jarang menghabiskan waktu bersama-sama. Adi dan Rahman disibukkan dengan kehidupan baru masing-masing. Adi bermain bersama teman barunya, dan Rahman juga bermain dengan teman barunya. Mereka hanya bertemu di sekolah, dan itu juga hanya mengobrol singkat. Mereka jarang bertemu di kelas Mata Pelajaran Agama, karena Adi sangat jarang mengikuti mata pelajaran itu.

Suatu hari Adi melihat Rahman berjalan berdua dengan Tika, teman sekelas mereka saat Pelajaran Agama. Hari itu, Adi melihat Tika dengan berbeda. Hari itu Tika terlihat sangat cantik dimata Adi. Hari itu Adi benar-benar lupa akan perasaan sukanya kepada Astri. Maka dihari-hari berikutnya, Adi mencoba untuk lebih sering dekat dengan Tika.

Usaha Adi gagal karena ternyata Tika menyukai Rahman. Rahman dan Tika kemudian berpacaran. Adi merasa kecewa. Adi menjadi ketus terhadap Rahman, yang tidak mengerti perubahan sikap Adi disebabkan oleh apa. Sampai suatu hari, Adi mengatai Rahman dengan sebutan Banci. Rahman yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya, mendorong tubuh Adi hingga terjatuh, dan kemudian pergi tanpa mengatakan sepatah katapun. Adi tahu bahwa sahabatnya marah kepadanya, terlihat dari wajah Rahman.

Berhari-hari Adi menyesali perbuatannya. Tetapi untuk meminta maaf pada Rahman, Adi belum bisa. Entah karena apa. Mungkin karena ego-nya yang masih besar di usianya saat itu. Untungnya tidak terlalu lama Adi seperti itu. Setelah berhari-hari tidak saling berbicara satu sama lain, Adi memberanikan diri meminta maaf pada Rahman. Rahman memaafkan Adi, dengan syarat Adi tidak lagi mengatai dirinya dengan sebutan Banci. Sejak saat itu hubungan Adi dan Rahman membaik, dan Adi tidak lagi menyukai Tika, karena Tika adalah pacar Rahman.

---- 0 ----

Di kelas Adi, ada dua nama Yanto. Dua orang yang sangat berbeda. Yanto pertama adalah teman sekelas Adi. Orangnya sangat pendiam, tubuhnya tinggi kurus, berkulit putih dan berambut lurus. Yanto pertama ini duduk di pojok belakang kelas, karena tubuhnya yang tinggi pasti akan menghalangi yang lainnya jika ia duduk di deretan depan.

Yanto kedua, adalah guru mata pelajaran Elektronika. Guru yang selalu mengeluarkan lendir yang ada di tenggorokannya berikut suara yang membuat mual. Guru yang juga mengajar di sekolah lain. Guru yang cara mengajarnya sebenarnya baik, hanya saja kelakuannya dengan lendir-lendir di tenggorokannya itu yang mengganggu.

Suatu hari, Yanto pertama datang ke sekolah dengan tubuh yang lemas. Dia baru saja sembuh dari sakit dan memaksakan diri untuk masuk sekolah. Karena lemas dan pusing, Yanto pertama akhirnya merebahkan kepalanya diatas meja dan beristirahat. Pada saat pelajaran Yanto kedua, Yanto pertama tetap tertidur. Yanto kedua kemudian menyadari hal ini, manyadari bahwa Yanto pertama tertidur di dalam kelas, saat pelajarannya. Yanto kedua kemudian mengambil penghapus papan tulis dan melemparkannya ke arah Yanto pertama. Penghapus papan tulis yang terbuat dari kayu dan busa itu mengenai tubuh yanto pertama yang sedang tertidur pulas. Seketika itu juga Yanto pertama terbangun, dan seluruh pasang mata yang ada di dalam kelas tertuju padanya. Pandangan mata kemudian berpindah kepada Yanto kedua saat Yanto kedua mengeluarkan kata-kata, mengusir Yanto pertama dari dalam kelas karena tertidur.

Yanto pertama tidak bergerak, ia hanya menatap dengan kesal kepada Yanto kedua. Tubuhnya yang terkena lemparan penghapus papan tulis terasa sakit. Yanto kedua yang melihat Yanto pertama tidak beranjak, dan hanya menatap dirinya dengan tatapan menantang, bergerak mendekati Yanto pertama. Tangan Yanto kedua menarik kerah baju Yanto pertama dan mencoba mengangkatnya untuk berdiri. Yanto pertama menepis tangan Yanto kedua sehingga cengkraman pada kerah bajunya terlepas dan ia duduk kembali. Kesal dengan kelakuan Yanto pertama, Yanto kedua melayangkan sebuah pukulan ke wajah Yanto pertama. Seisi kelas tercengang dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat. Pipi Yanto pertama yang putih seketika itu menjadi merah karena pukulan Yanto kedua. Yanto kedua kembali mengusir Yanto pertama keluar kelas, tetapi Yanto pertama tetap diam saja.

Seisi kelas kemudian melihat Astri berjalan menghampiri kedua Yanto.
“Maaf pak, Yanto sedang sakit, karena itu dia tidur. Biar saya antar Yanto ke ruang UKS pak” kata Astri kepada Yanto kedua.
Astri kemudian mengajak Yanto pertama keluar kelas. Yanto pertama menuruti ajakan Astri dan kemudian berdiri untuk meninggalkan kelas. Setelah Yanto pertama keluar kelas, pelajaran dilanjutkan kembali. Adi menahan air matanya yang sudah akan terjatuh. Adi terharu melihat kebaikan Astri.

---- 0 ----

Saat ujian kenaikan kelas, Adi terbaring di rumah karena sakit. Adi tidak bisa mengikuti ujian karena dirinya sakit Typhus. Pemikiran bahwa dirinya tidak akan naik kelas karena tidak ujian menghampiri Adi saat ia terbaring lemah di tempat tidurnya. Bayangan bahwa dirinya tidak akan sekelas lagi dengan Astri juga menghampiri, dan semakin menambah sedih dirinya. Adi terus terbaring di rumah sampai ujian berakhir.

Sehari setelah ujian berakhir, Adi memaksakan diri pergi ke sekolah, karena Papanya Adi mendapat kabar dari Pak Sofyan, Guru Fisika, bahwa Adi bisa mengikuti ujian susulan yang diadakan hari itu. Tanpa persiapan mempelajari apapun, Adi pergi bersama Papanya ke sekolah. Setibanya di sekolah, Adi dan Papanya menerima kabar bahwa ujian susulan akan diadakan setelah jam pulang sekolah, dan untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Karena masih agak lama, Adi dan Papanya memutuskan untuk menunggu bersama dengan Pak Sofyan di ruangan Laboratorium fisika yang terletak di lantai dasar, tepat dibawah kelas Adi.

Tidak lama kemudian, Adi pergi ke toilet. Saat berjalan kembali dari toilet, Adi berpapasan dengan Astri.
“Hey, Adi, sudah sehat kamu?” sapa Astri.
“Belum, ini mau ujian susulan aja” jawab Adi.
“Ujian susulan? Dimana Di?”
“Di Lab Fisika”
“Tunggu sebentar ya Di, aku punya sesuatu”
Astri kemudian dengan tergesa-gesa menaiki tangga untuk kembali ke dalam kelas. Tidak lama kemudian Astri kembali membawa beberapa buku catatan miliknya.
“Adi, waktu kamu tidak masuk, ada pembahasan soal ujian yang mungkin keluar, kamu pelajarin aja dulu sebentar ya Di, mudah-mudahan bisa bantu” kata Astri sambil menyerahkan buku-buku itu pada Adi yang menunggu terduduk di anak tangga.
“Makasih ya Tri” ucap Adi manarima buku-buku catatan Astri.
“Ya sudah, aku mau ke ruang guru Di. Selamat ujian ya Di, mudah-mudahan berhasil” Astri beranjak meninggalkan Adi yang berdiri terpaku di tempat yang sama. Adi yang menahan air matanya. Adi yang lagi-lagi terharu dengan kebaikan Astri.

Adi kemudian kembali ke dalam laboratorium, dimana Papanya dan Pak Sofyan sedang bermain catur. Adi membuka-buka buku catatan Astri, dan mempelajarinya dengan seksama. Setelah bel pulang berbunyi, Pak Sofyan pergi keluar untuk kemudian kembali lagi membawa soal ujian dan lembar jawabannya. Adi mengerjakan seluruh soal ujian hingga sore hari. Kepalanya seperti mau pecah. Untunglah Astri memberikan buku catatannya, sehingga Adi masih bisa mengerjakan sebagian besar soal yang diujikan. Selain catatan Astri, yang membantu Adi bersemangat mengerjakan soal adalah kehadiran Astri di luar ruang lab. Astri yang berkali-kali mengintip kedalam ruangan untuk melihat Adi mengerjakan soal. Astri yang berkali-kali tersenyum pada Adi dari balik jendela.

Kamis, 11 Juni 2009

Chapter Eight


Chapter 8

Adi sekarang duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Pertama. Hari ini adalah hari pertamanya di sekolah baru. Setengah dari teman sekelasnya di Sekolah Dasar masuk ke sekolah yang sama. Tapi beberapa hari yang lalu Adi mendatangi sekolah barunya dan mendapati bahwa ia hanya sekelas dengan dua teman Sekolah Dasarnya. Adi gugup sekali pagi itu, pagi sebelum berangkat ke sekolah. Adi gugup karena harus bertemu banyak orang baru.

Adi duduk di meja makan. Di depannya ada segelas susu coklat dan roti isi coklat. Adi memakan rotinya perlahan-lahan, seperti orang yang kehilangan semangat hidup, tidak bersemangat manyambut hari baru. Kakaknya yang bersekolah di Sekolah Menengah Swasta yang lokasinya di daerah Jakarta Pusat, dekat dengan kantor papanya, sudah berangkat bersama papanya lebih pagi, saat Adi masih bersiap-siap mengenakan seragam baru.
“Di, cepetan sarapannya, nanti terlambat” ujar Bi Asih, pembantunya.
“Masih lama Bi, masih setengah jam lagi” jawab Adi.
“Kan nanti jalan kaki Di, harus dihitung waktunya, beda sama kamu naik becak waktu SD kemarin Di”
“Iya Bi, cerewet ah. Week” Adi menjulurkan lidahnya.
Adi meneruskan memakan roti isi coklatnya sampai habis. Kemudian ia meminum susu coklatnya sebanyak seteguk, kemudian terhenti.
“Biiii….susunya masih panas nih! Minta es batu dong” teriak Adi pada Bi Asih yang sudah berada di belakang rumah.
“Ada di kulkas Di, ambil sendiri aja, bibi lagi rendam cucian nih” sahut Bi Asih.
“Huuuh” Adi beranjak dari tempat duduknya sambil menggerutu untuk kemudian mengambil es batu dari lemari es. Adi memasukkan 4 butir es batu dan mengaduk susunya. Setelah dingin, Adi menghabiskan susunya dan kemudian mengambil tas dan berangkat sekolah.

Sesampainya di sekolah, Adi membeli siomay di depan sekolah. Adi sangat gugup sehingga merasa harus makan untuk menenangkan dirinya. Sangat berbeda dengan di rumah, dimana Adi tidak semangat menghabiskan rotinya. Selesai makan, Adi menyempatkan membeli es teh manis dari tukang es langganannya, yang biasa berjualan di sekolahnya yang lama. Tidak lama kemudian, bel berbunyi, tanda masuk sekolah. Adi setengah berlari menuju kelas barunya. Sebelum memasuki ruangan kelas, mereka diharuskan berbaris. Dari tempatnya berdiri, Adi bisa melihat murid kelas lain yang juga berbaris di depan kelas masing-masing. Satu orang menarik perhatian Adi, satu orang dari kelas sebelah, satu orang anak perempuan berambut panjang dan bergelombang. “Manis” kata Adi dalam hati sambil terus memperhatikan anak perempuan itu memimpin barisan kelasnya. Perhatiannya terhenti saat Adi harus masuk ke dalam kelas.

Saat istirahat, semua murid baru diwajibkan mengikuti open house kegiatan ekstra kurikuler sekolah. Kegiatan yang ditawarkan adalah Unit Kesehatan Sekolah, Pramuka, Paskibra, Perkumpulan Ilimiah, Rohani Islam, Rohani Kristen dan Karate. Awalnya, karena melihat anak perempuan berambut panjang dari kelas sebelah mengambil kegiatan UKS, Adi tertarik mengambil kegiatan yang sama. Sampai kemudian Adi melihat meja kegiatan karate di pojok yang terhalang oleh murid-murid yang berkerumun di meja Pramuka. Adi kemudian membuang formulir pendaftaran UKS dan beranjak menuju meja kegiatan Karate. Adi mendaftar, menjadikan karate sebagai kegiatan ekstra kurikulernya. Adi masih merasa harus terus lebih baik dari Ira, yang sekarang tinggal di Semarang.

---- 0 ----

Malamnya, Adi sedang bersiap-siap kembali ke sekolah. Malam ini adalah melem pertama berlatih karate. Sesuai instruksi yang didapatnya saat mendaftar tadi siang, malam ini latihan pertama, dan selanjutnya akan rutin setiap senin dan kamis malam. Adi menyiapkan training Adidasnya, karena menurut instruksinya, untuk latihan pertama ini bagi yang belum memiliki Gi (seragam) karate boleh memakai kaos dan celana training. Setelah semuanya siap, Adi bergegas berangkat. Lima teman Sekolah Dasarnya juga mengikuti kegiatan yang sama, termasuk Jupri. Adi kemudian menunggu Jupri di belokan dekat rumahnya. Tidak lama kemudian Jupri keluar diantar oleh mamanya. Adi diajak ikut masuk kedalam mobil yang mengantar Jupri dan mamanya.

Pada latihan pertama ini, Adi dan peserta lainnya dijelaskan mengenai sejarah karate, tingkatan dalam karate yang ditandai dengan warna sabuk, dikenalkan pada sensei atau pelatih karate, dan sedikit latihan gerakan dasar. Adi melihat beberapa muka yang dikenalnya. Beberapa kakak kelasnya yang sudah mengenakan sabuk kuning, dan ada juga adik kelas Sekolah Dasarnya, teman sekelas Titin, sudah memakai sabuk hijau. Untuk pertama kali juga Adi diharuskan melakukan push-up dengan kepalan tangan, bukan dengan tumpuan telapak tangan seperti biasanya. Adi juga harus melakukan sit-up, pull-up, mencoba untuk melakukan split, dan berlatih mempertahankan posisi kuda-kuda selama puluhan menit. Semuanya membuat Adi merasakan pegal pada tubuhnya saat selesai latihan. “Sesuatu yang menyenangkan” pikir Adi sesaat sebelum beranjak tidur.

---- 0 ----

Hari selasa minggu depannya, Adi sedang mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia. Hari itu harusnya semuanya mengumpulkan pekerjaan rumah yang diberikan Bu Guru. Tapi Adi tidak menyerahkan pekerjaan rumahnya karena Adi tidak mengerjakannya sama sekali. Adi terlalu lelah berlatih karate sehingga sepulangnya latihan Adi tertidur dan tidak sempat mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Adi kemudian dipanggil oleh Bu Guru ke depan kelas bersama beberapa temannya yang juga tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
“Kenapa kamu tidak mengerjakan PR kamu?” Tanya Bu Guru pada Lukman, temannya.
Adi tahu Lukman juga kelelahan ikut karate sehingga tidak mengerjakan pekerjaan rumah.
“Buku saya ketinggalan Bu, saya sadarnya waktu mau mengerjakan tadi malam” jawab Lukman, berbohong.
“Alasan saja kamu…Ibu paling tidak suka sama anak pemalas. Sana, kamu berdiri di luar dengan satu kaki dan kedua tangan di telinga. Cepat.” Perintah Bu Guru. Terdengar beberapa murid tertawa kecil saat Lukman melangkah keluar dan mulai mengambil posisi seperti yang disuruh Bu Guru.
“Kamu, gendut, kenapa tidak mengerjakan PR?” Tanya Bu Guru pada Adi.
“Saya ketiduran Bu, semalam saya latihan karate dan kecapean, jadi pulang latihan saya tidur” diajarkan untuk tidak berbohong oleh papanya maka Adi menjawab sejujur-jujurnya.
Bu Guru tertawa. Menertawakan penjelasan Adi.
“Jangan bohong kamu. Gendut begitu ikut karate, mana bisa. Sana, keluar kelas, berdiri satu kaki, dua tangan di telinga. Cepat” perintah Bu Guru yang diikuti tawa lepas dari seluruh isi kelas.
Adi menuruti, dan dengan langkah bergetar berjalan keluar ruangan kelas. Berdiri di sebelah Lukman yang juga menertawakan kepolosan Adi, dan mengambil posisi seperti yang diminta. Berturut-turut kemudian keluar 2 orang lainnya, yang tidak diikuti tawa seluruh murid. Hanya alasan Adi yang ditertawakan.

---- 0 ----

Adi menemukan olahraga baru yang digemarinya di sekolah baru ini. Teman-teman sekelasnya sangat senang bermain basket, olahraga yang belum pernah Adi mainkan selama ini. Adi kemudian kembali membuka buku teori olah raga Sekolah Dasar dan mencari tahu tentang olah raga yang satu ini. Selain itu, Adi juga belajar pada Andi yang sudah jago bermain basket, meskipun tubuhnya lebih pendek daripada Adi. Dalam waktu yang tidak lama, Adi mulai menguasai tehnik dasar bermain basket. Lemparan bolanya juga sangat bagus. Lumayan untuk menutupi kekurang-lincahan tubuhnya yang gendut.

Selain bermain basket, Adi juga mulai mengikuti perkembangan berita NBA. Hampir semua temannya sangat menggemari Michael Jordan atau Magic Johnson saat itu. Tapi berbeda dengan Adi, dia lebih menyukai nama-nama seperti Larry Bird, John Stockton, Chris Mullin, Shawn Kemp dan Charles Barkley. Bahkan karena sangat menggemari seorang Charles Barkley, disaat ada temannya yang membeli sepatu Michael Jordan, Adi juga meminta dibelikan sepatu Charles Barkley pada papanya. Hanya saja, berhubung harga sepatu yang mahal, papanya tidak membelikannya. Akhirnya Adi menerima saja dibelikan sepatu basket Nike bekas.

---- 0 ----

Sudah beberapa waktu ini Kakeknya Adi dirawat dirumah sakit. Kakeknya diterbangkan dari kampung halaman ke Jakarta agar menerima perawatan yang lebih baik. Sakit yang diderita Kakeknya menyebabkan Kakeknya tidak dapat berjalan, dan bahkan sulit sekali untuk berbicara.

Beberapa kali Papanya Adi menginap di rumah sakit untuk menjaga Kakeknya. Adi yang juga ingin ikut menjaga Kakeknya, selalu dilarang oleh Papanya, sehingga jika Papanya menginap di rumah sakit maka Adi akan menginap di rumah Tantenya.

Setelah berbulan-bulan melawan penyakitnya, akhirnya Kakeknya Adi menyerah. Pada hari senin pagi, saat anak-anak dan cucu-cucunya sibuk beraktifitas, kecuali satu orang cucunya yang menemani, Kakeknya Adi pergi meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Berita kepergian Kakeknya segera tersebar dengan cepat. Sehingga siang itu, saat Adi sedang belajar, Papanya datang ke sekolah dengan tujuan menjemput Adi pulang. Papanya tidak mengatakan apa-apa sepanjang perjalanan pulang. Bahkan selama perjalanan ke rumah Tantenya Adi, tempat dimana jenazah disemayamkan. Adi baru mengetahui tentang kepergian Kakeknya saat tiba di rumah Tantenya. Adi menangis sekeras-kerasnya. Adi tidak percaya bahwa orang yang disayanginya, orang yang dikaguminya, kembali pergi meninggalkan dia. Meninggalkan dia yang mulai merasa bahwa pada akhirnya dia akan hidup sendirian….

---- 0 ----

Di pertengahan September, seluruh murid mendapat kabar yang agak mengejutkan. Sekolah mereka akan direnovasi sehingga untuk sementara waktu mereka akan menumpang belajar di sebuah Sekolah Dasar yang jaraknya agak jauh dari rumah Adi. Untuk mencapainya memang hanya butuh satu kali naik angkutan umum, tapi naik angkutan umum sendirian adalah pengalaman baru bagi Adi. Adi ragu apakah ia bisa. Namun karena hal tersebut sudah diputuskan, maka Adi dan seluruh murid menerima dan akan menjalaninya.

Ternyata, Adi bisa naik angkutan umum sendiri. Namun disini mulai muncul masalah baru. Karena tidak mau untuk berdiri bergantungan di pintu mobil angkutan, maka Adi selalu berusaha mendapatkan angkutan dimana ia bisa duduk. Jika selalu penuh, maka Adi memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Hal ini sering terjadi, sehingga menyebabkan banyaknya ketidak hadiran Adi di sekolah. Pihak sekolah kemudian memanggil orangtua Adi.

“Begini pak, alasan pihak sekolah memanggil bapak adalah menyangkut banyaknya ketidak hadiran putra bapak” kata Bu Guru wali kelas pada papanya Adi.
“Oh ya? Saya kira 5 hari masih masuk akal Bu, dan lagi tidak masuknya kan karena sakit. Ada suratnya kan?” jelas papanya Adi yang sepertinya heran.
“Pak, putra bapak memang 5 hari sakit, itu ada dalam catatan saya. Tapi putra bapak juga punya 12 absen tanpa keterangan di bulan ini saja. Bagaimana bapak menjelaskannya?”
Papanya Adi terkejut, dia tidak mengetahui tentang anaknya sering tidak masuk sekolah selain disaat dia benar-benar sakit.
“Betul itu Adi?” Tanya papanya pada Adi. Adi mengangguk pelan sambil terus menunduk, tidak berani menatap papanya atau Bu Guru wali kelas.
“Kenapa nak?” Tanya papanya lagi.
“Aku sering ga dapat mobil Pa. Daripada dihukum karena terlambat, lebih baik aku ga masuk” jelas Adi sambil terus menunduk.
“Adi, kalau tidak dapat mobil, kamu kan bisa naik bajaj sama mang Ikin. Bilang saja sama dia bayarnya nanti sama papa. Jangan bolos lagi ya nak” kata papanya. Adi mengangguk pelan.
“Janji Di?” desak papanya. Adi menatap papanya.
“Iya Pa” jawab Adi.
“Ya sudah, kamu masuk kelas sana, papa mau bicara sama Bu Guru”
Adi kemudian keluar ruangan guru dan memasuki kelasnya yang sudah ramai memulai pelajaran tata busana. Kain handuk berhamparan di setiap sudut kelas karena materinya adalah membuat pola baju mandi dari bahan handuk. Adi segera bergabung dengan teman satu kelompoknya yang sudah mulai memotong kertas kopi tempat menggambar pola.

---- 0 ----

Malam itu, keadaan rumah sedang tegang. Papanya Adi cemas luar biasa karena kakaknya sampai malam hari belum pulang sekolah. Tidak seperti biasanya, dimana kalau hendak pergi sepulang sekolah, kakaknya biasanya akan datang ke kantor papanya sambil minta izin. Tapi hari itu tidak dan papanya berpikir kalau kakaknya Adi langsung pulang ke rumah. Betapa terkejutnya papa Adi saat mendapati anak pertamanya tidak dirumah saat ia pulang kantor.

Adi kebagian tugas sibuk menghubungi teman-teman kakaknya melalui telepon, menanyakan apakah ada yang mengetahui keberadaan kakaknya. Tapi hasilnya nihil. Adi kemudian berinisiatif memeriksa kamar kakaknya, siapa tahu ada nomor telepon temannya yang tidak ditulis di buku telepon. Adi memeriksa tumpukan buku harian dan kertas milik kakaknya. Saat sedang membuka-buka buku harian kakaknya, Adi mendapati sesuatu yang menarik, sesuatu yang mungkin bisa membantu menemukan kakaknya. Adi membawa buku harian itu dan segera menghampiri papanya, yang sedang duduk mengobrol dengan kakak sepupunya, yang kebetulan tinggal bersama mereka.
“Papa, lihat ini Pa” kata Adi sambil menunjukkan sesuatu yang terselip diantara lembaran buku harian.
“Apa ini Di?” Papanya Adi heran. Kakak sepupunya mendekat untuk melihat benda itu.
“Surat Pa, dari Mama” jawab Adi.
“Dari Mama?” Tanya papanya kaget. Dengan segera papanya membuka dan membaca isi surat itu. Kakak sepupunya ikut membaca disebelah papanya Adi. Sesaat kemudian, papanya Adi membolak balik amplop surat, mencari alamat pengirimnya. Tapi tidak menemukannya.
“Mungkin dia ke rumah mamanya Om” Kakak sepupunya Adi berkata setelah ia selesai membaca surat tersebut.
“Iya, tapi kemana? Tidak ada alamat pengirimnya” kata papanya Adi sambil terus memperhatikan isi surat, seolah-olah memastikan tidak ada satu katapun yang terlewatkan.
“Kita ke rumah Erik saja Pa, sahabatnya kakak,siapa tahu dia bisa kasih tahu kita” usul Adi.
“Kenapa ga telepon aja Di?” Tanya kakak sepupunya.
“Erik ga pasang telepon, dia di Jakarta numpang sama omnya” jelas Adi.
“Kamu tahu rumahnya Erik Di?” Tanya papanya.
“Iya”
“Ayo berangkat sekarang saja Om. Ayo Di” ajak kakak sepupu Adi.
Maka pergilah mereka bertiga mencari kakaknya Adi ke rumah Erik, sahabat kakaknya Adi. Mereka naik mobil kakak sepupunya. Sesampainya di rumah Erik, Adi dan Papanya yang turun, sementara kakak sepupunya menunggu di mobil. Beruntung kakaknya Adi pernah menceritakan tentang rencana kakaknya Adi menemui mamanya kepada Erik. Beruntung juga Erik sempat mencatat alamat rumah mamanya, karena Erik pernah menemani kakaknya Adi pergi menemui mamanya. Setelah mendapat alamat mamanya, Adi, papanya dan kakak sepupunya, bergegas menuju alamat yang dimaksud. Kali ini perjalanan agak jauh, sehingga sepupunya Adi menyempatkan untuk mengisi bahan bakar kendaraan terlebih dahulu.

Sesampainya di alamat rumah yang dicari, papanya Adi langsung turun bahkan sebelum mobil sempat diparkir. Kakak sepupunya kemudian membatalkan niat memarkir mobil dan ikut turun. Adi mengikuti dibelakangnya. Papanya Adi mengetuk pagar rumah dengan gembok yang tergantung dip agar. Sementara Adi dan kakak sepupunya melihat-lihat kalau-kalau ada yang mengintip dari jendela. Tidak lama, seorang perempuan tua keluar, menghampiri mereka.
“Selamat malam Bu” sapa papanya Adi pada perempuan tua itu.
“Malam Pak. Ada perlu apa ya?”
“Bu Rosi ada Bu?”
“Bu Rosi? Ada Pak. Bapak siapa ya? Keluarganya atau…?”
“Saya Suaminya. Maksud saya, saya suami pertamanya”
“Oh. Sebentar ya Pak, saya beritahu Bu Rosi dulu”
Perempuan tua itu kembali masuk, tanpa membukakan pintu gerbang sama sekali. Rumah yang dimasukinya cukup besar, tidak mempunyai halaman seluas halaman rumah yang Adi tempati, tapi mungkin luas rumahnya sama. Rumah bercat warna gading dan berlantai dua itu terlihat sempit karena hampir tidak adanya halaman. Tidak lama, sesosok perempuan tampak berdiri di pintu.
“Papa?” Tanya si empunya sosok yang tak lain adalah kakaknya Adi.
“Kok bisa kesini? Tahu dari mana? Baru aja Anggi mau pulang” lanjutnya.
“Dari Erik kak, Erik yang kasitau” jawab Adi karena papanya tidak menjawab.
Tak lama kemudian, perempuan tua yang sebelumnya kembali keluar. Kali ini menenteng kunci dan kemudian membukakan pintu pagar agar Adi, papanya dan kakak sepupunya bisa masuk ke halaman rumah.
“Bu Rosi mana? Saya mau bicara” kata papanya Adi kepada perempuan tua itu.
“Ada di dalam Pak, sedang istirahat” jawab perempuan tua itu.
“Panggil dia” kata papanya Adi sambil masuk ke dalam rumah.
“Kamu semua tunggu disini” lanjut papanya Adi saat Adi dan kakaknya hendak ikut memasuki rumah itu juga. Adi dan kakaknya menurut dan menunggu di luar bersama kakak sepupu mereka.
Setelah beberapa saat, papanya Adi keluar membawa tas Anggi dan menyuruh mereka semua bergegas pulang. Maka mereka berempat segera memasuki mobil dan pulang kerumah. Didalam mobil, papanya Adi menasehati Anggi. Papanya Adi mengatakan” tidak apa kalau mau bertemu mama, asalkan papa dikasitau, jangan sampai papa cemas begini berpikiran kamu kenapa-kenapa di jalan.”
Anggi mengangguk tanda menyetujui. Di tengah perjalanan, mereka menyempatkan diri mampir di sebuah restoran seafood dan makan malam disana. Adi sangat suka seafood, biarpun jika terlalu banyak memakan udang maka langit-langit rongga mulutnya akan terasa gatal.

---- 0 ----

Senin, 01 Juni 2009

Chapter Seven


Chapter 7

Adi duduk di kelas 6, kelas terakhir dalam sekolah dasar. Adi mendapat dua teman baru di kelas ini, mereka adalah murid pindahan dari sekolah lain. Pertama ada Ichsan, anak seorang kaya yang bandel, kulitnya sawo matang, rambutnya ikal. Lalu ada Haris, anak berkulit putih dan pendiam.

Sejak awal kehadirannya, Ichsan selalu berusaha menjadi pusat perhatian. Selalu berbicara dengan suara yang keras, tertawa dengan keras, sehingga membuat seisi kelas bisa mendengar suara yang keluar dari mulutnya. Ichsan juga langsung menunjukkan kenakalannya dengan membawa rokok kedalam ruang kelas. Kalau sedang istirahat, dia akan menghisapnya bersama dengan Jupri, entah itu di pojokan kelas atau di toilet. Kenakalan Ichsan tidak hanya sampai disitu. Dengan rokoknya, dia senang menyundut apapun yang dia mau. Dia membuat lubang di baju beberapa temannya, lubang di tasnya dan tas teman-temannya, bahkan suatu kali dia menyundut lengan Jupri. Jupri yang dianiaya seperti itu diam saja, entah karena apa dia diam saja. Adi merasakan, sejak kehadiran Ichsan, Jupri sudah jarang sekali bermain dengannya, dan memilih bermain dengan Ichsan.

Haris, dari awal sangat pendiam. Senang mendengarkan orang lain mengobrol, tapi dirinya hampir tidak pernah mengeluarkan suara untuk ikut mengobrol. Haris dan Ichsan sama-sama tidak terlalu menonjol dalam pelajaran, bahkan mereka sangat tertinggal. Haris kemudian menceritakan kenapa dia terlihat sangat tertinggal dari yang lainnya. Menurut pengakuan Haris, dirinya sebenarnya sempat berhenti sekolah di kelas 5 selama lebih dari 2 tahun, dan karena bantuan kepala sekolah dirinya dimasukkan ke kelas 6 padahal seharusnya dirinya masih di kelas 5. Mendengar itu, Adi dan sahabatnya, Rahman dan Tasya, setiap hari secara bersamaan ataupun bergantian, mencoba mengajarkan Haris setiap mata pelajaran yang tidak dimengertinya.

Usaha mereka pada awalnya menunjukkan hasil, nilai-nilai Haris mulai membaik. Haris sudah mulai bisa mengikuti pelajaran dengan baik, jauh meninggalkan Ichsan yang masih sering tertinggal. Tapi pada akhirnya, usaha mereka berujung pada suatu yang mengecewakan mereka. Haris kembali harus berhenti dari sekolah itu di pertengahan tahun ajaran, Haris memutuskan untuk bekerja membantu orang tuanya ketimbang menghabiskan waktunya di sekolah.

---- 0 ----

Sejak pertama melihat Ira berlatih karate, Adi semakin sering pergi ke sekolah di sore hari hanya untuk melihat Ira berlatih. Tidak hanya sering melihat Ira latihan karate, Adi juga mulai sering memperhatikan Ira dalam berbagai hal. Mulai dari saat berenang, jam pelajaran olah raga, di dalam kelas, saat istirahat sampai saat pulang. Adi melihat Ira sebagai sosok perempuan yang menakjubkan. Bisa mengalahkan laki-laki dalam banyak hal, mulai dari nilai pelajaran, olah raga, sampai ke permainan yang biasanya dilakukan laki-laki. Adi selalu berusaha mengalahkan Ira dalam berenang, tetapi Ira selalu lebih unggul dan mendapat nilai tertinggi. Begitupun dalam pelajaran, Adi tidak pernah bisa mengalahkan Ira yang selalu mendapat peringkat yang baik di kelas, bersaing dengan Indro, Tasya dan Bayu.

Satu-satunya hal dimana Adi lebih unggul dari Ira adalah dalam pelajaran tambahan bahasa Inggris, yang mulai dijadikan pelajaran tambahan sejak kelas 5. Karena punya kelebihan dalam bahasa Inggris itulah akhirnya Adi bisa lebih sering berbicara dengan Ira. Ira, Rahman, Tasya, Bayu dan Indro sering meminta bantuan Adi dalam mengerjakan soal-soal bahasa Inggris, dan Adi dengan senang hati membantu mereka.

Suatu siang saat sedang menunggu bel pulang sekolah, Adi sedang mengobrol dengan Tasya dan Rahman. Beberapa teman Adi berada di luar kelas, karena kebetulan guru pelajaran terakhir tidak masuk hari itu, jadi keadaan kelas memang sedikit kacau. Sedang seru-serunya mengobrol, perhatian mereka teralihkan oleh kedatangan Bayu, sang ketua kelas, yang memanggil anak-anak laki-laki untuk berkumpul di luar kelas. Dengan berat hati, Adi dan Rahman menuruti kemauan Bayu. Hampir semua anak laki-laki berkerumun si sudut sekolah, sepertinya serius mendengarkan seseorang yang mereka kerumuni. Adi yang penasaran berusaha untuk melihat siapa yang berbicara kepada semuanya, dan setelah bersusah payah Adi melihat yang ada di tengah kerumunan itu adalah Indro.

“Jadi gitu, dia ngancem mau nyerang sekolah kita” kata Indro.
“Kita serang aja duluan, ngapain takut” balas Ichsan.
“Iya, kita duluan aja yang samperin, kan kita pulang duluan daripada mereka” Bayu menimpali
“Tar dulu dong, yakin ga nih mau nyerang duluan? Lo sih enak Bay, belajar kungfu dari kecil, lah yang lain?” kata Indro
“Lo kan karate Dro, gimana sih, masa takut” bayu menjawab Indro
“Gue sih oke aja, yang lain gimana Bay?”
Hampir semua dari yang berkerumun menjawab “Setuju!”. Adi dan Rahman yang masih bingung dan tidak tahu apa permasalahannya mencoba mencari tahu.
“Ada apa sih Bay? Nyerang siapa? Mau berantem ya?” Tanya Adi pada Bayu.
“Anak SD komplek sebelah mau nyerang kita, gue juga ga tahu kenapa mereka mau nyerang, tapi kalau mang mau mereka begitu gue ga bisa diem. Lo ikut aja, kita serang duluan” jawab Bayu.
“Ooh. Malas ah, ga jelas kenapanya” kata Adi sambil beranjak kembali ke dalam kelas. Rahman mengikuti dibelakangnya.

Tidak lama kemudian, bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak laki-laki berebutan masuk untuk mengambil tas dan kemudian keluar lagi.
“Anak cewek yang pulang lewat komplek sebelah mendingan tunggu agak siang dikit pulangnya. Atau kalau enggak, pulang lewat jalan lain ya” kata Bayu sebelum meninggalkan ruangan kelas.
“Ada apa sih Di?” Tanya Tasya.
“Anak-anak mau berantem sama sekolah komplek sebelah”
“Loh, kenapa?”
“Gak tau Sya, alesannya ga jelas. Katanya sekolah kita mau diserang, jadi anak-anak mau nyerang duluan”
“Lo kenapa ga ikut?”
“Males gue Sya, ga jelas berantemnya buat apa”
“Oh..takut lo ya? Hehehe…” kata Tasya sambil mencubit tangan Adi.
“Enak aja. Gue ga ikut ya karena gue males aja berantem buat sesuatu yang ga jelas”
Adi kemudian teringat kejadian beberapa waktu yang lalu di rumahnya. Pagi minggu itu Adi disuruh memandikan anjingnya. Adi tidak suka dengan anjing yang ini, entah kenapa, karena biasanya Adi sangat menyayangi anjing. Mungkin karena anjing ini pernah menggigit Indro dan Agung beberapa minggu yang lalu. Kekesalan Adi pada anjing itu belum hilang. Saat sedang memandikan anjing itu dengan air dalam satu baskom besar, anjing itu berontak dan menggigit tangan Adi. Seketika itu juga kegelapan memenuhi Adi. Keadaannya sangat gelap dan hampa. Ketika tersadar, papanya sedang mengguncang tubuh Adi yang basah kuyup.
“Kenapa kamu Di?” Tanya papanya.
“Hah? Ga kenapa-kenapa” jawab Adi yang masih bingung.
“Terus kenapa kamu tadi cekik Topsi di dalam baskom? Kamu mau bunuh dia?” kata papanya dengan nada yang lebih tinggi.
Adi terkejut. Adi tidak mengingat sama sekali tentang dia mencekik anjingnya di dalam baskom. Yang dia ingat hanyalah semuanya tiba-tiba menjadi gelap.
“Adi…Adi…ngelamun lo?” Tanya Tasya sambil menepuk-nepuk pundak Adi dan membuyarkan lamunannya.
“Eh, engga” jawab Adi.
“Pulang ga lo? Gue mau pulang nih, gue kan ga lewat komplek sebelah”
“Nanti dulu deh Sya, gue mau nunggu yang lain dulu”
“Ya udah, gue duluan ya” Tasya beranjak pergi.
“Sya, Ira mana ya? Lihat ga?” Tanya Adi saat Tasya mencapai pintu kelas.
“Ira? Ira kan tadi ikut anak-anak cowok. Lo kaya ga kenal Ira aja” jawab Tasya sambil meninggalkan kelas, meninggalkan Adi yang mulutnya menganga, Adi yang menyesal tidak ikut menyerang sekolah komplek sebelah bersama Ira, menyesal terlihat seperti cowok lemah dimata Ira, perempuan yang Adi sukai.

---- 0 ----

Keesokan harinya, orang pertama yang dicari oleh Adi adalah Ira. Adi mau mendengar cerita Ira tentang penyerangan sekolah komplek sebelah.
“Ira, gimana kemaren?” Tanya Adi.
“Apanya yang gimana Di?” jawab Ira sambil membetulkan posisi celana olah raganya.
“Kemaren, sekolah komplek sebelah….gimana berantemnya?” Tanya Adi kembali sambil meletakkan tasnya.
“Berantem? Siapa yang berantem? Gue kemaren ga berantem kok” Ira mengencangkan ikatan tali sepatunya.
“Lho, bukannya lo kemaren ikut anak-anak cowok mau nyerang sekolah komplek sebelah?” Adi ikut-ikutan mengencangkan tali sepatu.
“Enggak tuh, gue kemaren langsung pulang. Anak-anak juga ga ada yang berantem, mereka ke rumah Bayu katanya”
“Oh. Kirain lo ikut mereka karena mau nyerang sekolah komplek sebelah”
“Gue ikut mereka karena rumah gue kan lewat komplek sebelah, seru aja kalau pulang rame-rame. Kenapa sih lo serius banget nanyain soal berantem?”
“Ah ga apa-apa”
Bel tanda masuk berbunyi, Adi dan Ira, bersama teman-teman lainnya segera meninggalkan ruangan kelas, karena jam pelajaran pertama mereka hari itu adalah olah raga.

---- 0 ----

Pagi itu, Adi sedang belajar bersama Tasya. Adi dan Tasya di kelas 6 memang duduk satu meja. Kemudian datang Dwi, mengajak Tasya untuk mengobrol.
“Lihat deh tuh anak cowok, pada gila semua” kata Dwi sambil menunjuk ke sekelompok anak kelas enam di bagian belakang kelas.
“Kenapa Dwi?” Tanya Tasya yang bingung dengan maksud Dwi. Adi juga tak kalah bingungnya.
“Pada ngintipin celana dalamnya Titin, anak kelas 5” jelas Dwi.
“Haah?!” Adi dan Tasya sama-sama terperangah.
“Masa sih Wi?” Tanya Tasya sambil menahan tawa.
“Titin itu yang mana ya?” Tanya Adi pada Dwi, bersamaan dengan pertanyaan Tasya.
“Iya Sya..Titin, yang putih, rambut panjang..yang paling cakep itu lho Di” kata Dwi mencoba menjawab keduanya.
“Apa enaknya coba ngelihatin celana dalam orang?” Tanya Tasya terheran dengan sikap anak laki-laki di kelasnya.
“Tau deh”
“Penasaran gue” kata Adi yang kemudian beranjak menuju tempat gerombolan anak laki-laki itu.
“Huu..dasar lo Di, sama aja” kata Tasya diikuti tawanya, menertawakan Adi. Dwi juga ikut menertawakan Adi.
Kelas 6 dan kelas 5 hanya terpisah oleh papan-papan kayu. Beberapa papan membuat celah, sehingga cukup banyak lubang untuk mengintip ke ruangan sebelah. Adi kemudian menuju lubang terdekat dengan lubang yang diperebutkan anak-anak lainnya. Posisi lubang yang dipilih Adi memang agak sulit dijangkau, karena terhalang kursi yang dipakai oleh Indro. Berhubung Indro sedang asik berebut lubang lain yang tidak terhalang apapun, Adi menggeser kursi Indro dan mencoba melihat melalui lubang tersebut.

Adi mendapati lubang ini tidak tepat berada di hadapan Titin, sehingga Adi tidak bisa melihat celana dalam Titin yang saat itu sedang duduk dalam posisi kaki terbuka. Tapi Adi tidak terlalu perduli, Adi hanya ingin melihat yang mana yang namanya Titin. Dia sering mendengar teman-temannya membicarakan Titin, mereka menganggap Titin itu bagaikan dewi, sangat cantik. Adi melihat wajah Titin dengan seksama dari lubang kecil itu. Adi mulai mengerti kenapa begitu banyak yang membicarakannya, karena Titin memang sangat cantik. Apalagi jika Titin tersenyum dan tertawa. Sesaat kemudian, Titin merubah posisi duduknya menjadi agak miring, sehingga sekarang Titin menghadap persis ke arah Adi. Dengan kedua kaki Titin yang terbuka, Adi bisa melihat dengan jelas celana dalam yang dipakai Titin. Merasa malu sudah melihat celana dalam perempuan, Adi menyudahi kegiatan mengintipnya dan dengan wajah memerah kembali ke tempat duduknya. Indro kemudian mengambil alih lubang yang ditinggalkan Adi.

“Gimana Di? Enak? Warna apa celana dalamnya?” berondong Tasya saat Adi baru saja duduk. Dwi yang tadinya mengobrol dengan Tasya sudah kembali ke tempat duduknya.
“Pu…putih Sya” jawabnya dengan pandangan kosong.
“Oh, pake celana dalam putih”
“Bu..bukan Sya. Yang putih itu kulitnya, putih banget. Celana dalamnya mah warna merah” tatapan Adi kembali kosong, seperti sedang melamunkan sesuatu.
“Ooh. Kenapa lo?” Tanya Tasya yang terheran melihat Adi terbengong-bengong.
“Ah..gak apa-apa..Sya, celana dalam lo warna apa?” jawabnya mencoba terlihat biasa.
“Putih, kenapa? Mau lihat lo?”
“Gue masih ga ngerti apa enaknya ngelihat celana dalam”
“Lihat aja kalau lo bisa. Niih” kata Tasya sambil mengangkat roknya. Tapi Adi tidak bisa melihat celana dalam Tasya, karena Tasya memakai celana pendek ketat yang menutupi pahanya.
“Yee. Apa yang mau gue lihat coba?” protes Adi. Tasya sudah menurunkan roknya kembali.
“Enak aja lo mau ngelihat, ga boleh tauu” kata Tasya sambil mencubit tangan Adi. Adi mencoba melepaskan diri, tapi cubitan Tasya sangat keras, Adi hanya bisa pasrah.
“Kok lo pakai celana pendek Sya?” beberapa saat setelah Tasya akhirnya melepaskan cubitannya.
“Ya iyalah, daripada diintipin kaya si Titin, apalagi lo kan senang banget jatuhin pulpen”
“Apa hubungannya jatuhin pulpen ma ngintip?”
“Kalau lo jatuhin pulpen, ngambilnya kan harus nunduk, jadi gampang kan ngelihatnya, weee..” Tasya menjelaskan dan kemudian menjulurkan lidahnya, meledek Adi.
“Ya ampun Sya, sumpah gue ga ada niat ngintip celana dalam lo”
“Iya Di, gue bercanda kok. Gue pakai celana pendek karena gue emang suka pakai celana pendek, lebih bebas”
“Ooh..oke” Adi and Tasya menghentikan pembicaraan mereka karena guru mereka sudah memasuki kelas.

---- 0 ----

Keinginan Adi untuk terlihat hebat dimata Ira tetap tumbuh. Adi tetap berusaha mengalahkan nilai berenang Ira. Meskipun tidak bisa, tapi di saat pengambilan nilai terakhir, setidaknya Adi mendapat nilai yang sama dengan Ira, berhubung hanya Adi dan Ira yang sudah mampu menguasai 4 gaya berenang. Nilai sekolah Adi pun mulai membaik, walau hasil akhirnya dia tetap tidak bisa melebihi nilai Ira. Karena keinginan yang kuat itulah, Adi memutuskan usaha terakhirnya untuk melewati Ira adalah pada saat EBTANAS.

Malam sebelum EBTANAS, Adi yang sebelumnya tidak pernah belajar sama sekali, mulai membaca buku pelajaran. Adi berusaha keras menghafal rumus matematika, menghafal setiap pasal dalam Undang Undang Dasar, menghafal pelajaran IPA dan IPS, dan juga membaca dan memahami Bahasa Indonesia. Karena tidak terbiasa belajar, Adi cepat merasa bosan. Baru setengah buku dia baca, dia menghentikan kegiatannya untuk kemudian bermain game atau tidur. Selalu seperti itu setiap malam sebelum mata pelajaran tersebut diujikan.

Ketika pengumuman nilai EBTANAS, orang tua siswa diwajibkan hadir karena mereka harus mengurus administrasi sekolah. Adi dan papanya diberi selamat oleh kepala sekolah dan wali kelas Adi. Menurut mereka, hasil yang diraih Adi diluar dugaan, sangat berbeda dengan nilainya selama ini yang tidak mampu masuk peringkat atas kelas. Adi diberitahu mendapatkan nilai EBTANAS tertinggi ketiga di sekolahnya. Mendengar itu Adi merasa kecewa, karena dipikirannya dia lagi-lagi gagal mengalahkan Ira, yang menurutnya pastilah peringkat satu atau dua. Tiba-tiba papanya Adi bertanya “Siapa peringkat satu dan duanya bu?”. Jawaban yang diberikan wali kelasnya sangat mengejutkan Adi
“Iya pak, saya juga kaget, Adi bisa mengalahkan yang biasa juara kelas lho” jelas bu guru wali kelas.
“Oh ya? Siapa peringkat satu dan duanya?” papanya Adi mengulangi pertanyaannya. Adi menunggu jawaban bu guru dengan antusias.
“Peringkat satunya Indro, kedua Tasya” jawab bu guru.
“Hah? Ira? Ira peringkat berapa bu?” Tanya Adi penasaran. Jantungnya berdegup kencang, dia tidak percaya apa yang didengarnya barusan.
“Ira peringkat lima Di, dia ada dibawah Bayu” jelas bu guru.
Hati Adi berbunga-bunga. Pada akhirnya dia mampu melewati pencapaian Ira. Dia merasa sudah setara dengan perempuan yang disukainya. Dia berpikir, dengan hasil ini Ira akan melihat dia sebagai laki-laki hebat dan pintar dan Ira akan suka padanya. Setelah selesai membubuhkan cap sidik jari pada ijazahnya, Adi dan papanya meninggalkan ruangan Kepala Sekolah. Karena ingin bertemu Ira, Adi tidak mengikuti papanya pulang ke rumah, tapi dia menunggu di sekolah. Tidak lama kemudian, Adi melihat Ira keluar dari ruangan kepala sekolah, dan Adi langsung menghampiri Ira.
“Heei..Adi..selamat ya. Lo pinter juga ya ternyata, kalah gue jadinya” sapa Ira sebelum Adi sempat mengucapkan sepatah kata.
“I..Iya. Makasih ya Ra, lo juga hebat kok, masih rata-rata 8 kan?” kata Adi sambil menjabat tangan Ira.
“Masuk SMP mana Di?” Tanya Ira.
“SMP Negeri yang disebelah sekolah kita ini” jawab Adi sambil tersenyum bangga. Sekolah yang disebutnya merupakan sekolah pilihan pertama di wilayah itu. Bukan sekolah unggulan nasional, tapi setidaknya punya nama baik dan salah satu yang terbaik di wilayah itu.
“Lo sendiri masuk mana Ra? Sekolah yang sama kan?” lanjut Adi.
“Selamat lagi ya Di. Gue ga sekolah disini Di, gue pindah ke Semarang. Bapak gue pindah kerja ke Semarang dan gue harus ikut dia” kata Ira sambil tangan kirinya menepuk pundak kanan Adi.

Hati Adi yang tadinya berbunga-bunga, hancur seketika. Kabar yang dia dengar ini bagaikan mimpi buruk. Kenyataan bahwa Ira akan jauh dari dirinya membuat Adi sangat sedih. Dia sangat merasa kehilangan seseorang yang dikaguminya, seseorang yang membuatnya sangat bersemangat, seseorang yang disukainya. Adi mulai merasa hidupnya tidak adil, semua orang yang dia sayang selalu pergi meninggalkannya.

Selasa, 05 Mei 2009

Chapter Six


Chapter 6

Adi duduk di kelas 5. Hari itu Adi dan teman-teman sekolahnya akan mengikuti tes IQ. Dulu waktu Adi kelas 1, Adi juga pernah ikut tes IQ dan hasilnya menggembirakan. Sekarang, 4 tahun berselang, Adi kembali bersiap mengikutinya.

Seperti sebelumnya, Adi disarankan untuk sarapan pagi tetapi tidak sampai terlalu kenyang, karena kalau sampai kekenyangan daya pikirnya tidak akan optimal. Maka pagi itu Adi meminum susunya dan memakan semangkuk mi instan. Dengan perut yang sudah terisi, Adi berangkat ke sekolah dengan becak langganannya. Entah kenapa Adi enggan berjalan kaki beberapa waktu belakangan ini, padahal jarak dari rumahnya ke sekolah tidaklah jauh. Mungkin karena banyaknya rumah dengan anjing galak yang harus dia lalui, atau karena memang dia benar-benar jadi pemalas.

Sesampainya di sekolah, teman-temannya sudah ramai. Tidak lama kemudian mereka memasuki ruangan kelas dan tes dimulai. Adi dan beberapa temannya yang sudah pernah ikut tes IQ sebelumnya sudah terbiasa mengerjakan soal tes. Sementara yang lain masih harus memperhatikan petunjuk mengerjakan dari seorang wanita muda. Adi bersemangat sekali. Tes ini, berbeda dengan tes lain yang jawabannya harus mengingat apa yang tertulis di buku atau catatan, membuat Adi yang lebih senang berpikir daripada mengingat manjadi sangat bersemangat mengerjakannya.

Setelah beberapa jam, Adi dan teman-temannya telah selesai. Wanita muda yang menjadi pembimbing mengatakan hasilnya akan keluar dalam beberapa hari, dan akan diserahkan langsung ke orang tua masing-masing siswa. Dengan kata lain, orang tua mereka diharapkan hadir pada saat penyerahan nilai tes IQ.

Hari penyerahan nilai tes IQ akhirnya tiba. Adi dan Papanya menunggu giliran mereka dipanggil. Setelah kemudian akhirnya benar-benar dipanggil, Adi dan papanya maju dan duduk di hadapan seorang ibu berkerudung yang membagikan hasil tes.

“Bapak, hasil tes anak bapak bagus. Biasa juara kelas ya?” kata ibu berkerudung itu pada papanya Adi sambil menyerahkan selembar kertas hasil tes.

“Juara kelas? Cuma di kelas 2 dia juara, itu juga Cuma ranking ke-2.” Jawab papanya Adi.

“Masa sih? Anak bapak diatas rata-rata lho pak, harusnya dia bisa juara kelas.”

“Nyatanya tidak bu.”

“Apakah dia termasuk malas pak?”

“Maksudnya malas?”

“Ya maksudnya malas, sehari-hari hanya tidur, tidak pernah belajar.”

“Kalau tidur tidak, dia seharian bermain dengan teman-temannya. Kalau tidak belajar, dia memang tidak pernah belajar, kecuali mengerjakan pe-er.”

“Oh, mungkin itu masalahnya pak, kalau dia belajar mungkin dia bisa juara kelas.”

Adi yang dari tadi mendengarkan, mulai berpikir “waduh, beban lagi…” sambil terus berharap Papanya tetap memberikan kebebasan untuknya tidak selalu belajar.

---- 0 ----

Di suatu sore yang cerah, Adi sedang berjalan pulang menuju rumahnya, sehabis seharian bermain di rumah sahabatnya. Sore itu Adi memutuskan untuk mengambil jalur melewati sekolahnya. Saat sudah berada dekat dengan sekolahnya yang berada di sebelah Sekolah Menengah Pertama itu, Adi mendengar suara teriakan-teriakan. Adi penasaran dan bergegas melihat ada keramaian apa di sekolahnya. Dari balik pagar sekolah, Adi melihat puluhan orang memakai baju dan celana putih, dengan ikat pinggang yang berbeda warna. Mereka memukul dan menendang udara, mengeluarkan keringat dan meneriakkan seruan-seruan tanda semangat.

Dari deretan muka-muka berkeringat itu, tatapan Adi terhenti pada salah satu wajah yang dikenalnya. Salah seorang teman perempuannya ada disana, berkeringat, memakai baju dan celana yang sama dan berikat pinggang berwarna biru. Ira, itu namanya. Perempuan berambut pendek yang sangat dekat dengan anak-anak pria di kelasnya. Perempuan yang senang bermain kasti, voli, dan perempuan yang nilai berenangnya hampir selalu diatas Adi.

Dari sekian tahun berada dalam satu sekolah, baru kali ini Adi menatap wajah Ira dengan berbeda. Ira yang dilihatnya saat itu amat menakjubkan, membuatnya betah berlama-lama menatapnya. Saat mereka semua selesai, Adi bergegas pulang.

Esoknya, Adi menghampiri Ira dan menanyakan soal aktifitas Ira kemarin sore.

“Ira, kemarin sore ngapain di sekolahan? Pencak silat ya?”

“Itu Karate Di, bukan pencak silat.”

“Karate? Kaya Karate Kid?”

“Iya”

“Berarti lu bisa jurus bangau dong? Kaya Daniel-san?”

Ih, itu mah ngarang. Namanya juga film”

“Film? Kok film? Gue kan ngomongin soal game Nintendo”

“Iya, apalagi itu, ngayal.”

“Jadi ga ada jurus bangau?”

Gak ada.”

“Kalau nangkep lalat pakai sumpit bisa ga?”

Boro-boro, pake sumpit aja kaga bisa.”

“Kalau pecahin es balok?”

“Nah kalau itu bisa gue. Patahin gagang pompa juga bisa.”

“Wooow…”

Sejak saat itu, Adi mengidolakan Ira. Bahkan mungkin menyukainya, tapi Adi belum mengerti soal itu.

---- 0 ----

Siang itu, sebagian murid kelas 5 sudah pulang, atau setidaknya sudah meninggalkan gedung sekolah. Adi masih terduduk di dalam kelas, dengan beberapa teman kelasnya. Hari itu Adi dan beberapa temannya itu akan mendapatkan pelajaran lebih dalam rangka akan diikut sertakannya mereka dalam lomba Dokter Cilik beberapa hari kemudian. Ada 6 orang dari mereka dan hanya akan dipilih tiga. Selain Adi, ada Tasya, Indro, Ira, Bayu dan Hari.

Mereka memperhatikan guru yang menerangkan tentang langkah-langkah penanganan pertama pada kecelakaan. Tentang menangani patah tulang, luka terbuka, luka lecet dan lain-lain. Setelah beberapa jam mengikuti pengarahan, guru tersebut kmudian memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh semuanya. Dan setelah itu, hasil jawabannya diperiksa dan langsung dinilai. Tiga orang yang terpilih adalah tiga orang dengan nilai paling tinggi. Tiga orang itu adalah, dalam urutan yang tidak menentukan siapa yang tertinggi, Adi, Tasya dan Bayu. Jadilah tiga anak ini diberikan jubah dokter dan sebuah buku tentang Dokter Cilik.

Tiba kemudian hari mereka mengikuti lomba Dokter Cilik. Dalam lomba itu, dengan jubah mereka, anak-anak kelas 5 dari sekolah-sekolah se-Kecamatan berlomba menjadi yang terbaik. Dengan penuh percaya diri Adi, Tasya dan Bayu melangkah masuk kedalam ruang lomba. Mereka disambut oleh seorang ibu yang kemudian meminta salah satu dari mereka berpura-pura sebagai korban. Bayu yang tidak sama semangatnya dengan kedua temannya menawarkan diri untuk menjadi korban.

Pertanyaan pertama dari ibu itu adalah bagaimana jika Bayu mengalami luka sepanjang 10 cm? Ibu itu menggambar garis lurus pada lengan Bayu sebagai perumpamaan luka. Tasya dengan segera mengambil kapas dan obat antiseptic dan mencoba mengoleskan pada lengan Bayu. Tapi kemudian Adi mencegahnya.

“Jangan dulu, kita cuci dulu lukanya.” Kata Adi.

“Langsung aja, nanti keburu infeksi.”

“Kalau ada kotorannya gimana?”

“Kalau airnya kotor gimana? Kan malah tambah parah.”

“Iya juga ya…kalau ga ada air bersih gimana ya? Kemarin kan ga dikasitau sama Ibu itu.”

Akhirnya Tasya dan Adi sibuk berdebat dan tidak mengobati Bayu sama sekali. Ibu tadi memperhatikan dan tersenyum. Kemudian Ibu itu mengatakan sesuatu.

“Begini ya adik-adik. Kalau luka sepanjang ini, kamu lihat dulu lukanya dalam atau hanya goresan biasa. Kalau dalam, sebaiknya memang dibersihkan dulu, dan membersihkannya memakai alcohol. Kalau tidak ada, bersihkan pakai kapas juga bisa. Baru kemudian diberikan obat antiseptic dan lukanya ditutup.” Kata ibu itu.

Setelah berkata itu, Adi, Tasya dan Bayu keluar ruangan dengan lesu. Mereka tahu bahwa karena kebodohan mereka maka sekolah mereka sudah pasti tidak akan memenangkan lomba ini. Dan ternyata mereka memang tidak memenangkan lomba tersebut. Tapi pengalaman menjadi Dokter Cilik, memakai jubah dan menjadi perwakilan sekolah, tidak akan dilupakan oleh Adi.

Kamis, 23 April 2009

Chapter Five


Chapter 5

Papa Adi adalah perokok. Sampai Adi duduk di kelas 4 hampir tidak ada hari dimana Adi melihat papanya tidak merokok. Hal itu membuat Adi berpikir, apa enaknya merokok? Adi juga melihat di televisi, tokoh-tokoh dalam film seringkali merokok, terutama jika filmnya tentang mafia Italia, dimana pimpinannya biasanya menghisap cerutu. Adi sering mengikuti gaya merokok dalam film dengan menggunakan pulpen atau pensil sebagai pengganti rokok.

Rasa penasaran Adi terhadap rasa rokok memuncak. Sampai suatu hari, Adi di rumah hanya dengan kakaknya dan pembantu rumah. Kakaknya sedang tertidur, dan pembantunya sedang sibuk di dapur. Adi menemukan bungkus rokok papanya yang tertinggal. Papanya pergi dengan murid-murid papanya, entah kemana. Menemukan rokok menganggur seperti itu, Adi langsung berlari ke dapur dan mencari korek api. Setelah menemukan yang dicari, Adi kembali ke kamar dan mulai menyalakan rokok. Adi menghisap rokok itu, dan kemudian membuang asapnya. Adi kemudian menjilati bibirnya, terasa manis. Adi penasaran ingin melihat seperti apa dirinya yang sedang merokok. Adi kemudian duduk di depan cermin sambil terus menghisap rokok. Adi mencoba berbagai cara mengeluarkan asap dari mulutnya, mulai dari menghembuskannya ke depan seperti biasa, menghembuskan dari pinggir mulutnya, dan bahkan mencoba membuat bentuk lingkaran seperti apa yang dia lihat di salah satu cerita bergambar keluaran luar negeri.

Percobaan rokok pertamanya terhenti saat Adi mendengar suara pintu kamar kakaknya terbuka. Dengan segera Adi mematikan rokok dan mengibas-ngibaskan tangannya pada kepulan asap rokok yang tersisa. Setelah beberapa saat, pintu kamar kakaknya kembali terbuka dan tertutup. Sepertinya kakaknya hanya pergi ke kamar mandi. Adi kemudian membakar kembali sisa rokok yang tadi dia matikan, dan menghisapnya lagi. Mulai saat itu, setiap rokok papanya tertinggal, Adi pasti menghisapnya.

---- 0 ----

Jam di dinding menunjukkan waktu pukul 18.25 WIB. Adi, papa dan kakaknya sedang menonton televisi. Tiba-tiba topsi menggonggong. Dengan sigap, Adi pergi keluar dan melihat siapa yang datang. Adi melihat dua orang temannya berdiri diluar pagar rumahnya. Mereka memanggil-manggil nama Adi. Adi kemudian keluar dan menghampiri mereka.

Ada apaan malem-malem?” Tanya Adi.

“Di, keluar yuk sebentar, ikut gue ma Indro” kata Jupri, salah satu temannya.

“Ya udah, tunggu ya, gue bilang papa dulu”

“Eh Di, bawa uang ya” tambah Jupri.

“Buat apaan?”

“Udah, bawa aja

Walaupun tidak mengerti untuk apa, Adi masuk kedalam dan meminta ijin pada papanya. Tentu saja Adi tidak lupa membawa sisa uang jajannya hari ini.

Ada apa sih Pri?” Tanya Adi pada Jupri setelah mereka mulai berjalan meninggalkan rumah Adi.

Gue ma Indro mau beli rokok, lu mau kan?”

“Beli? Mang berapa?”

Lu bawa berapa?”

Gopek” jawab Adi sambil mengeluarkan lima lembar uang seratus rupiah.

Lu Ndro, bawa berapa?” Jupri bertanya pada Indro.

“Tiga setengah nih” jawab hendro sambil mengeluarkan tiga keping uang seratus rupiah dan sekeping uang lima puluh rupiah.

“Sini, kumpulin duit lu semua” Jupri mengumpulkan uang yang dibawa Adi dan Indro, dan kemudian memasukkan kedalam sakunya.

Lu berdua tunggu disini, gue ke warung dulu. Korek lu bawa kan Dro?” kata Jupri seraya meninggalkan Adi dan Indro tanpa menunggu jawaban Indro.

Emang lu merokok Dro?” tanya Adi.

Gue baru mau coba nih. Lu?”

Gue sering kalau dirumah”

“Wah, sama kaya Jupri lu. Enak banget. Gak dimarahin lu?”

“Kalau ketahuan ya dimarahin lah”

Tidak lama kemudian Jupri datang membawa sebungkus rokok yang sama dengan rokok papanya Adi. Jupri membuka bungkusnya dan masing-masing dari mereka mengambil satu batang.

Lu kok merokoknya kaya gitu di? Kaya baru belajar aja” kata Jupri.

Emang kenapa?”

“Ditarik dong asapnya, kaya gue nih” jawab Jupri sambil memperagakan gaya merokoknya.

“Oh gitu”

Lu juga Dro, ditarik”

Adi dan Indro mencoba melakukan apa yang ditunjukkan Jupri. Adi dan Indro terbatuk saat pertama menghirup asap rokok dan menelannya. Lama-kelamaan, Adi mulai terbiasa sementara Indro yang memang baru pertama kali menghisap rokok masih terbatuk-batuk. Jupri hanya tertawa melihat Indro. Mereka bertiga merokok sampai jam 9 malam. Sebelum pulang, Jupri mengingatkan Adi dan Indro supaya mereka mengganti baju sesegera mungkin setelah mereka tiba di rumah masing-masing. Menurut Jupri, supaya Adi dan Indro tidak ketahuan merokok oleh orang tua mereka.

---- 0 ----

Di suatu malam, Adi sedang bersama kakak sepupunya sedang menonton film video betamax. Papanya sedang bertugas diluar kota dan baru akan kembali dalam beberapa hari kedepan. Adi tidak bisa ikut papanya kali ini karena harus sekolah. Kakak sepupunya diminta oleh papanya Adi untuk menjaga Adi dan kakaknya, karena hamper seluruh isi rumah berangkat dengan papanya Adi. Kakak sepupu Adi bernama Tian. Adi sudah menganggap Tian seperti kakak laki-lakinya sendiri. Adi bahkan mengidolakan Tian.

Sedang serunya menonton film, tiba-tiba topsi mengonggong. Seperti biasa, Adi adalah yang paling cepat untuk berlari keluar dan melihat siapa yang menarik perhatian anjingnya itu. Adi melihat dari balik jendela, seorang wanita membawa dua buah tas. Adi mengenali wajah wanita itu, yang belum menyadari bahwa Adi sedang melihatnya. Wanita yang datang malam itu adalah…..Mamanya.

Kakaknya yang tiba kemudian, langsung membuka pintu dan setengah berlari menghampiri mamanya.

“Mama!” ujar kakaknya seraya memeluk tubuh mamanya.

“Hai. Wah, sudah besar kamu. Kelas berapa sekarang?”

“Aku sudah SMP ma. Mama dari mana? Langsung dari Cikembar?”

Enggak. Mama dari rumah teman mama. Papa kamu ada?”

“Papa ke Cikembar”

“Oh….Mama boleh masuk Gi?”

“Oh iya, masuk ma”

Mama dan kakaknya beranjak dari teras memasuki rumah. Setelah menutup pintu masuk, mata mamanya terhenti pada sosok Adi yang berdiri terpaku melihat sosok mamanya. Adi tidak dapat mempercayai penglihatannya.

“Adi? Ini Adi? Ya ampun..besar sekali kamu Di” kata mamanya dan melangkah mendekati Adi.

Adi hanya berdiri diam, tidak berusaha menghampiri dan tidak berusaha menjauh juga. Dalam hatinya terjadi peperangan yang dahsyat antara rindu dan benci. Satu sisi dia sangat merindukan mamanya, tapi di sisi lain dia sangat membenci mamanya yang telah meninggalkan keluarga mereka sejak Adi kecil. Tangan mamanya meraih dan memeluk Adi. Adi tidak membalas pelukan mamanya, nampaknya rasa benci sedang unggul dibanding rasa rindunya.

“Kamu kelas berapa Di, sekarang?” Tanya mamanya.

“Empat” jawabnya seadanya.

“Besar ya kamu sekarang..” Tanya mamanya lagi sambil melepaskan pelukan dan mengamati Adi dari atas ke bawah.

“Iya”

“Ma, ke kamarku yuk” ajak kakaknya kepada mamanya.

“Ayo. Mama ke kamar kak Anggi ya Di” mamanya membawa tas-tasnya dan beranjak menuju kamar Anggi, kakaknya Adi.

“Oh ma, ingat kan? Ini Tian” kata kakaknya saat melewati kamar Adi dan mamanya melihat Tian.

“Oh..ini anaknya tante Mona ya?” Tanya mamanya pada Tian

“Iya” Anggi, Tian dan Adi menjawab bersamaan. Mamanya hanya tersenyum kecil mendengarnya, kemudian masuk ke dalam kamar Anggi. Anggi kemudian menyusul dan menutup pintu kamarnya, setelah sebelumnya menyempatkan membalik tulisan “Ada di dalam” menjadi tulisan “Jangan Ganggu” di pintu kamarnya. Adi dan Tian masuk ke dalam kamar Adi dan meneruskan film Lion Maru yang tadi sedang ditonton.

---- 0 ----

Tujuan mamanya datang malam itu selain untuk bertemu kedua anaknya, juga untuk menjual sebuah Video Game Nintendo pada papanya. Berhubung papanya sedang di Cikembar, mamanya menginap sampai papanya pulang. Selama mamanya menginap, makanan di rumah menjadi lebih enak. Mamanya memang jago memasak. Setelah papanya pulang, tidak terlalu lama kemudian mamanya pergi dari rumah itu. Papanya Adi telah membayar video game yang dijual oleh mamanya, dan memberikannya kepada Adi.

Adi senang bukan main. Sekarang dia tidak perlu menyebrang rumah untuk bermain video game. Adi tidak perlu mengeluarkan uang untuk bermain video game. Biarpun awalnya video game itu bermasalah, tapi setelah diperbaiki video game itu menjadi benda kesayangan baru Adi.

Sejak punya video game itu, Adi mulai sering mengajak teman-temannya untuk bermain di rumahnya sepulang sekolah. Kalau mereka bosan bermain video game, mereka bisa menonton film video betamax, bermain dengan mainan Adi yang banyak, atau hanya makan siang, menikmati masakan yang dibuat Adi. Ya, sejak beberapa tahun lalu keluarga Adi memutuskan untuk tidak lagi memakai jasa pembantu rumah tangga. Oleh karena itu, Adi kemudian menjadi terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri, termasuk memasak.

Chapter Four


Chapter 4

Selama di sekolah dasar, Adi mulai mengenal berbagai macam olah raga. Mulai dari senam, voli, basket, kasti sampai sepakbola. Meskipun tidak terlalu baik dalam berolahraga karena badannya yang gemuk, Adi sangat suka olah raga. Menurutnya, berkeringat bersama teman-teman itu adalah hal yang menyenangkan.

Adi juga mulai suka menonton siaran olah raga di televisi. Beberapa tahun sebelumnya, Adi sempat terpukau oleh kehebatan tiga pemain sepak bola asal Belanda. Namun sekarang, Adi lebih menyukai sebuah tim sepak bola asal Inggris. Sejak pertama kali menonton tim tersebut berlaga, Adi menyukai gaya permainannya yang penuh semangat dan penuh kebersamaan. Mulai saat itu, tepatnya ketika Adi duduk di kelas 3, Adi menjadi penggemar tim Manchester United.

---- 0 ----

Tubuh Adi sekarang memang lebih gemuk dibandingkan waktu masih di taman kanak-kanak. Karena tubuh gemuknya, Adi mulai sering dijuluki “Ndut” oleh teman-temannya. Awalnya Adi tidak suka, tapi lama-kelamaan Adi semakin terbiasa. Hanya saja, Adi tidak suka kalau ada yang menyebutnya “Gendut” dengan nada mengejek. Adi akan sangat marah, tapi dia tidak melakukan apa-apa, hanya akan menyimpan kekesalannya di dalam hati.

Pagi ini, setelah melakukan senam pagi, seluruh anak kelas 3 telah kembali ke dalam kelas. Suasananya gaduh. Ada yang bercanda, ada yang serius membicarakan sesuatu, dan ada yang membahas tentang kejadian keluarnya cairan dari telinga salah satu teman saat senam tadi. Adi sendiri termasuk yang sedang membahas kejadian itu. Ketika sedang seru mengobrol, tiba-tiba salah seorang teman sekelas Adi yang merasa dirinya jagoan, mengejek Adi.

“Gendut, ngapain lu ngobrol aja ma anak cewek? Banci lu!” Teriaknya dari belakang, 3 bangku dari tempat Adi duduk.

Adi menoleh, melihat ke arah anak itu, kemudian berpaling dan kembali meneruskan obrolan dengan teman-temannya. Pikir Adi, tidak ada untungnya meladeni orang seperti itu.

Eh, Gendut banci, gue lagi ngomong sama lu,” kata anak itu lagi.

Adi kali ini tidak menoleh, dia berpura-pura tidak mendengar, dan tetap mengobrol dengan teman-temannya. Anak itu kemudian menghampiri Adi, mencengkeram kerah baju Adi dan mengangkatnya.

Lu nantangin gue ya?” Tanyanya.

“Lepasin gak..” Kata Adi, sedikit gemetar.

“Kalau enggak lu mau apa?”

Tiba-tiba, Adi merasa di sekelilingnya menjadi gelap. Dia merasa seperti tertidur. Saat Adi kembali membuka mata, dia melihat dirinya sedang berdiri dan terengah-engah. Temannya yang sok jagoan sudah tergeletak di lantai, meringis kesakitan, dan hidungnya mengeluarkan darah. Adi tidak mengerti apa yang terjadi. Hampir semua pasang mata melihat ke arah Adi. Anak sok jagoan itu dibantu dua temannya, keluar dari kelas. Adi kemudian duduk kembali dan mencoba mengatur nafasnya.

Lu gak apa-apa?” tanya Sasha, teman sebangkunya.

“Hah? Oh, gue gak apa-apa. Tadi ada apa ya?”

Lah…Ada apa gimana?”

“Iya, tadi si Anca kenapa berdarah gitu hidungnya?”

“Kan lu pukul. Gimana sih?”

Gue? Mukul? Ya ampun…Kok bisa?”

“Kenapa engga? Bagus lah ada yang berani ngelawan dia.”

Kata-kata Sasha seharusnya menghibur, karena itu seperti pujian. Tapi Adi terlanjur gemetar, dia takut membayangkan bagaimana kalau bapak dan kakak-kakaknya Anca datang mencari dia. Adi berpikir, pasti nyawanya tidak selamat. Dia juga masih bingung, karena dia sama sekali tidak merasa memukul anak itu. Tapi kenapa hampir semua orang merasa yakin bahwa Adi memukulnya?

---- 0 ----

Adi selamat dari ketakutannya terhadap pembalasan keluarga Anca. Ternyata keluarga Anca tidak melakukan apa yang dibayangkan Adi. Namun Adi masih belum mengerti, bagaimana dia bisa memukul Anca? Sekeras apapun dia berusaha mengingat kejadian itu, tetap saja Adi tidak bisa ingat. Lama-kelamaan, Adi melupakan kejadian itu. Anca sendiri sepertinya masih mengingat kejadian itu, karena sampai sekarang dia tidak pernah lagi mengganggu Adi.

Di pertengahan kelas 3, Adi mulai mengenal olah raga berenang. Sebagai kegiatan tambahan sekolah, Adi berenang seminggu sekali bersama teman-teman sekelasnya. Dalam waktu singkat, Adi sudah bisa berenang dengan dua gaya berbeda. Nilainya olah raga renangnya hanya kalah dengan Ira, teman sekelasnya yang memang amat pandai berenang.

Setiap selesai berenang, biasanya Adi dan teman-temannya langsung menuju kantin dan jajan. Setelah puas jajan, kalau bus penjemputnya belum datang, Adi dan teman-temannya pergi ke tempat penyewaan video game di sebelah kolam renang. Mereka menghabiskan waktu - dan sisa uang - di tempat itu.

Suatu hari setelah selesai berenang, Adi memutuskan untuk membeli roti kacang dan memakannya sambil berjalan keluar kolam renang. Setelah menunggu sebentar di halte, bus penjemput belum juga datang. Adi kemudian pergi ke tempat video game dan mulai bermain dengan serius, sambil sesekali melihat ke sekitar kalau-kalau bus penjemput datang. Game yang dimainkan ternyata cukup seru buat Adi. Cukup lama juga Adi bermain hari ini, lebih lama dari biasanya. Selesai bermain, Adi kembali ke halte, tempat dia dan teman-temannya biasa menunggu bus penjemput. Betapa terkejutnya Adi mendapati halte dalam keadaan sepi. Dia ditinggal sendirian. Adi bingung karena uangnya sudah habis, dia tidak bisa naik angkot untuk pulang ke rumah. Akhirnya Adi harus berjalan kurang lebih sejauh 4 kilometer dari kolam renang ke rumah. Sejak saat itu, Adi tidak mau lagi bermain video game setelah berenang.

Chapter Three


Chapter 3

Kini Adi sudah duduk di kelas 2 sekolah dasar. Temannya kian bertambah, menjadi jauh lebih banyak dari sebelumnya. Adi mulai lebih banyak bermain ke luar rumah ketimbang menghabiskan waktu di rumah sendirian menonton televisi atau membaca. Adi mulai sering berpanas-panasan dengan teman-temannya, bermain berbagai permainan, atau kadang hanya bermain mainan di rumah temannya. Adi mulai semakin menyukai kebersamaan, lebih dari pada saat dia masih di taman kanak-kanak.

Suatu hari, Adi terbangun sendirian di kamarnya. Tidak ada suara-suara yang biasanya terdengar, baik itu suara papanya, kakaknya, atau murid-murid papanya. Adi mulai merasa panik. Dia tidak suka sendirian. Adi turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Adi pergi ke kamar sebelah, kamar kakaknya, dan mendapati kamar itu juga kosong, kakaknya tidak di sana.

“Paa…Giiii…Topsiiii…” Adi mulai memanggil-manggil semua orang yang dikenalnya, tapi tidak ada jawaban.

Adi menyusuri koridor menuju ruang makan. Saat melewati kamar rekan kerja papanya, dia mengetuk dan memanggil rekan papanya.

“Oom…Oom…”

Karena tidak ada jawaban, Adi mengintip ke dalam kamar melalui lubang kunci. Kamar itu kosong, tidak ada tanda-tanda ada orang di dalam. Adi melangkah ke ruang makan. Tidak ada satu orang pun di ruang makan, sesuatu yang jarang sekali terjadi karena biasanya murid-murid papanya berkumpul di ruang makan atau di ruang tamu.

Adi meneruskan memeriksa seluruh rumah. Kamar-kamar murid-murid papanya kosong, kamar pembantu kosong, ruang tamu kosong. Adi benar-benar panik. Adi mencoba membuka pintu depan, tapi ternyata pintu itu dikunci. Adi terkurung di dalam rumah.

Sekilas, tiba-tiba Adi melihat lukisan wajah anak kecil sedang menatap tajam ke arahnya. Matanya seolah mengikuti setiap gerak-gerik Adi. Karena ketakutan, Adi berteriak sambil berlari ke halaman belakang. Adi menutup pintu ke halaman belakang dan menangis sambil terduduk di sebelah boneka manusia milik kakaknya yang sedang dijemur.

Sampai kemudian, terdengar suara yang mengejutkan Adi.

“Kenapa kamu?”

“Eh? Siapa? Siapa yang ngomong?” Adi bingung dan mencari-cari sosok yang berbicara.

“Aku,” kata suara itu.

Tiba-tiba Adi merasa sesuatu menggenggam tangan kirinya. Adi menoleh, dan melihat tangannya digenggam oleh boneka manusia di sebelahnya. Boneka itu tersenyum mengerikan, dengan sorot mata tajam yang sama mengerikannya. Adi mencoba berontak melepaskan tangannya dari cengkeraman boneka itu, tapi boneka itu lebih kuat. Adi mencoba berteriak, tapi suaranya tidak bisa keluar. Hingga akhirnya Adi bisa mengeluarkan suara.

“To… To… Toloooooong!!!” Teriaknya sambil mulai menangis.

Tubuh Adi diguncang-guncang oleh boneka itu. Boneka itu semakin mendekat dan terlihat seperti ingin memakannya hidup-hidup. Adi semakin berontak, dan goncangan pada tubuhnya semakin kencang.

“Di… Adi… Bangun, Di…!” Kata sebuah suara yang Adi kenal.

Adi terbangun dengan keringat membasahi tubuh dan air mata membasahi wajahnya. Nafasnya terengah-engah. Adi melihat sekeliling. Dia berada di kamarnya, papanya duduk di sampingnya sambil memegang tangannya, dan kakaknya melihat dari ambang pintu. Adi mengalami mimpi buruk, mimpi yang mengubah Adi. Sejak saat itu, Adi benci kesendirian dan benci boneka berbentuk manusia.

Followers

 

Diary Of A Normal Man Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez